Technological Outlook ITB Bahas Teknologi Pendukung untuk Menjawab Tantangan Perubahan Iklim dan Lingkungan Binaan
Bandung, 4 September 2026 — Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung kembali menggelar rapat pembahasan progres penyusunan Technological Outlook ITB pada Jumat, 4 September 2026, di Ruang Rapat A, Lantai 6, Gedung CRCS, Kampus ITB, Bandung.
Rapat membahas pengembangan substansi Technological Outlook ITB, khususnya mengenai teknologi yang dapat mendukung manusia dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan, seperti perubahan iklim dan pertumbuhan populasi.
Rapat dihadiri secara luring oleh Direktur Riset dan Inovasi ITB Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., Dr. Eng. Isty Adhitya Purwasena, S.Si., M.Si., Husna Nugrahapraja, S.Si., M.Si., Ph.D., Rindia Maharani Putri, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., serta perwakilan IDEALOG, Islaminur Pempasa dan Saffanah Zahirah.
Sementara itu, Suhendri, S.T., M.Sc., Ph.D., Khoirul Muslim, S.T., M.Sc., Ph.D., apt. Defri Rizaldy, S.Farm., M.Si., Ph.D., Ir. Pramudita Satria Palar, S.T., M.T., Ph.D., dan Dr. Phil. Eng. Hari Purnama, S.Si., M.Si. mengikuti pembahasan secara daring.
Dalam diskusi, R. Sugeng Joko Sarwono menyampaikan bahwa salah satu aspek yang penting untuk dimasukkan dalam Technological Outlook ITB adalah teknologi yang mendukung kemampuan manusia untuk hidup dan beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi saat ini. Perubahan iklim dan peningkatan populasi menjadi bagian dari tantangan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi ke depan.
Pembahasan teknologi pendukung tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari material, fisika bangunan (building physics), kenyamanan termal, hingga akustik. Berbagai bidang tersebut memiliki peran dalam menciptakan lingkungan binaan yang mampu merespons kebutuhan manusia sekaligus menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Konsep ini juga berkaitan dengan pengembangan smart building, yang tidak hanya menekankan pemanfaatan teknologi digital, tetapi juga mempertimbangkan kualitas dan kinerja bangunan dari sisi kenyamanan, efisiensi, serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan.
Dalam penyusunan pembahasan tersebut, terdapat peluang untuk melibatkan keahlian dari Kelompok Keahlian Rekayasa Kinerja Lingkungan Binaan (KK RKLB) serta Kelompok Keahlian Teknologi Bangunan. Keduanya memiliki keterkaitan dengan isu mengenai performa bangunan dan lingkungan binaan yang menjadi bagian dari pembahasan teknologi masa depan.
Rapat turut menyinggung perkembangan neuroarchitecture atau neuroarsitektur, yaitu pendekatan yang menghubungkan ilmu mengenai respons manusia dengan perancangan lingkungan binaan. Pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu perspektif dalam memahami bagaimana desain dan teknologi bangunan dapat memengaruhi pengalaman serta kenyamanan penggunanya.
Selain perkembangan teknologi secara global, pembahasan Technological Outlook ITB juga dinilai perlu mempertimbangkan karakteristik Indonesia. Sebagai negara dengan iklim tropis basah, Indonesia menghadapi kondisi suhu dan kelembapan udara yang relatif tinggi. Karakteristik tersebut menghadirkan tantangan tersendiri dalam perancangan bangunan dan pengembangan teknologi lingkungan binaan.
Dengan mempertimbangkan konteks lokal tersebut, pengembangan teknologi tidak hanya diarahkan pada penerapan inovasi yang berkembang secara global, tetapi juga pada solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat Indonesia.
Melalui rangkaian pembahasan ini, penyusunan Technological Outlook ITB diharapkan dapat memetakan perkembangan teknologi sekaligus memberikan gambaran mengenai berbagai bidang yang relevan untuk menjawab tantangan masa depan, khususnya dalam mendukung kehidupan manusia di tengah perubahan lingkungan dan perkembangan kebutuhan masyarakat.
Berita Terkait: ITB Lanjutkan Penyusunan Technological Outlook untuk Mendukung Arah Strategis Riset
Kontributor: Saffanah Zahirah
