Technological Outlook: Mengembangkan Potensi Mikroba dan Fungi untuk Pangan Masa Depan serta Hilirisasi Bioteknologi Indonesia
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Perkembangan bioteknologi mikroba membuka peluang besar dalam menjawab berbagai tantangan masa depan, salah satunya kebutuhan pangan berkelanjutan. Pemanfaatan mikroorganisme, khususnya fungi, tidak hanya berperan dalam menghasilkan produk pangan fermentasi yang telah dikenal masyarakat, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi sumber protein alternatif melalui teknologi industri modern.
Dalam penyusunan Technological Outlook ITB, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, Ph.D. dari Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, menyampaikan pandangannya mengenai peluang pengembangan teknologi berbasis mikroba, khususnya pemanfaatan fungi sebagai sumber pangan masa depan.
Wawancara dalam rangka penyusunan Technological Outlook tersebut dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, bertempat di Ruang Rapat B, Lantai 6, Gedung CRCS, Kampus ITB, Jalan Ganesa No. 10, Bandung. Diskusi dilakukan oleh Tim IDEALOG, yaitu Islaminur Pempasa dan Saffanah Zahirah, untuk menggali perspektif mengenai perkembangan teknologi, kesiapan riset, serta peluang hilirisasi inovasi berbasis bioteknologi.
Fungi sebagai Sumber Protein Masa Depan
Prof. I Nyoman menjelaskan bahwa fungi memiliki sejarah panjang dalam kehidupan manusia, baik dalam bidang pangan maupun kesehatan. Salah satu contoh paling dikenal adalah pemanfaatan mikroorganisme dalam proses fermentasi, seperti tempe dan berbagai produk pangan tradisional lainnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah memungkinkan fungi tidak hanya digunakan sebagai agen fermentasi, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber protein alternatif melalui produksi biomassa mikroba. Salah satu konsep yang berkembang adalah mycoprotein, yaitu protein yang berasal dari biomassa fungi.
“Kalau fungi ini bisa terus-menerus diproduksi dalam reaktor, kemampuan produksinya akan jauh berbeda dibandingkan peternakan konvensional. Dengan sistem bioreactor, produksi protein dapat dilakukan secara berkelanjutan dalam skala industri,” jelasnya.
Berbeda dengan produksi daging dari hewan yang membutuhkan waktu pemeliharaan dan sumber daya besar, produksi protein berbasis fungi dapat berlangsung secara lebih efisien karena mikroorganisme dapat tumbuh dengan cepat dalam kondisi yang dikendalikan. Dari sisi kandungan protein, produk berbasis fungi memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi manusia.
Namun, Prof. I Nyoman menekankan bahwa tantangan pengembangan pangan berbasis fungi bukan hanya pada aspek teknologi, tetapi juga penerimaan masyarakat. Faktor rasa, tekstur, kebiasaan konsumsi, serta edukasi publik menjadi bagian penting agar produk pangan baru dapat diterima secara luas.
Dari Laboratorium Menuju Produk Industri
Dalam pengembangan risetnya, Prof. I Nyoman telah lama melakukan kajian mengenai pemanfaatan fungi, termasuk eksplorasi produksi biomassa miselium (mycelium) sebagai bahan pangan.
Salah satu pendekatan yang pernah dikembangkan adalah memanfaatkan fungi penghasil keju biru (blue cheese), seperti Penicillium roqueforti. Melalui proses kultivasi dalam medium cair, biomassa miselium yang dihasilkan kemudian dapat diolah menjadi berbagai bentuk pangan, seperti produk menyerupai nugget atau makanan berbasis protein lainnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian teknologi tersebut telah mencapai tahap yang cukup matang untuk dikembangkan lebih lanjut. Bahkan, beberapa pengembangan telah diarahkan melalui kerja sama dengan perusahaan rintisan (startup) yang bergerak di bidang pangan alternatif.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan teknologi ini karena memiliki kekayaan biodiversitas mikroba yang sangat tinggi. Namun, kekayaan tersebut perlu diikuti dengan upaya pengembangan teknologi, penguatan industri, serta dukungan ekosistem inovasi agar tidak berhenti pada tahap penelitian dasar.
Potensi Besar dari Biodiversitas Mikroba Indonesia
Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar, termasuk keragaman fungi yang masih banyak belum dieksplorasi. Prof. I Nyoman menyampaikan bahwa banyak potensi mikroorganisme lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Akan tetapi, menurutnya, riset biodiversitas mikroba selama ini masih sering berhenti pada tahap eksplorasi dan publikasi ilmiah. Diperlukan langkah lanjutan agar hasil penelitian dapat masuk ke tahap pengembangan teknologi dan komersialisasi.
“Biodiversitas tetap harus berjalan, tetapi jangan berhenti hanya pada pencarian jenis baru. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan teknologi agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia mencontohkan industri jamur pangan di Indonesia yang sebenarnya pernah memiliki sejarah kuat. Pada era tertentu, Indonesia pernah menjadi salah satu eksportir jamur merang terbesar di dunia. Namun, keberlanjutan industri tersebut belum berkembang secara optimal karena kurangnya dukungan teknologi, infrastruktur, dan strategi pengembangan industri.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa pengembangan bioteknologi membutuhkan kesinambungan antara penelitian, industri, dan kebijakan.
Pentingnya Infrastruktur dan Ekosistem Hilirisasi
Dalam konteks hilirisasi, Prof. I Nyoman menilai bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga membangun kemampuan produksi. Teknologi berbasis mikroba membutuhkan fasilitas pendukung seperti bioreactor, sistem pemurnian, hingga fasilitas produksi berskala industri.
Ia menilai bahwa Indonesia masih membutuhkan penguatan industri pendukung agar mampu menghasilkan teknologi secara mandiri. Tanpa dukungan tersebut, inovasi yang telah dikembangkan di laboratorium akan sulit mencapai tahap produksi massal.
Menurutnya, pengembangan industri berbasis bioteknologi tidak dapat hanya mengandalkan mekanisme pasar, tetapi membutuhkan strategi jangka panjang yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri.
“Kalau ingin mandiri, kita harus membangun kemampuan sendiri, termasuk fasilitas dan industri pendukungnya. Tidak cukup hanya menghasilkan penelitian,” ungkapnya.
Teknologi Siap Dikembangkan, tetapi Membutuhkan Dorongan Lebih Lanjut
Prof. I Nyoman menyampaikan bahwa beberapa teknologi berbasis mikroba yang dikembangkan sebenarnya telah memiliki tingkat kesiapan yang cukup baik untuk diarahkan menuju implementasi lebih luas. Tantangannya adalah bagaimana mendorong proses peningkatan skala (scale-up) dan membangun rantai pasok yang mendukung.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga inovasi agar dapat dikembangkan dengan cepat sebelum kehilangan momentum. Ide dan hasil penelitian perlu segera diarahkan menuju pengembangan produk apabila telah memiliki peluang implementasi.
Melalui pengembangan teknologi berbasis mikroba, Indonesia memiliki peluang untuk menghadirkan solusi baru dalam bidang pangan, kesehatan, dan industri. Dengan dukungan ekosistem riset yang kuat, biodiversitas mikroba Indonesia tidak hanya menjadi kekayaan ilmiah, tetapi juga dapat menjadi sumber inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Penyusunan Technological Outlook ITB menjadi salah satu langkah untuk memetakan berbagai teknologi strategis yang memiliki potensi dikembangkan di masa depan, termasuk teknologi berbasis bioteknologi mikroba yang mampu menjawab tantangan global secara berkelanjutan.
Kontributor: Aura Salsabila Alviona
