Enter your keyword

Tim Lintas Keilmuan ITB Kaji Ekosistem Pengelolaan Sampah dan Ketahanan Komunitas di Sekitar Kampus

Tim Lintas Keilmuan ITB Kaji Ekosistem Pengelolaan Sampah dan Ketahanan Komunitas di Sekitar Kampus

Tim Lintas Keilmuan ITB Kaji Ekosistem Pengelolaan Sampah dan Ketahanan Komunitas di Sekitar Kampus

BANDUNG — Tim peneliti lintas keilmuan Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar rapat pembahasan penelitian bertajuk “Dinamika Sosial dan Partisipasi Komunitas dalam Pengelolaan Sampah di Sekitar Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB)” pada Rabu, 12 Agustus 2026, pukul 12.30–15.30 WIB, di Ruang Rapat A, Gedung CRCS Lantai 6, Kampus ITB Bandung.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya tim untuk mematangkan arah penelitian yang tidak hanya melihat perilaku individu dalam menangani sampah, tetapi juga memahami persoalan persampahan sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan aspek sosial, ekonomi, infrastruktur, layanan, regulasi, hingga partisipasi masyarakat.

Rapat diikuti oleh Ketua Peneliti Ir. Seny Damayanti, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL), serta anggota tim Melia Famiola, S.T.P., M.T., Ph.D. dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM), Dr. Lulu Lusianti Fitri, M.Sc. dan Dr. Ir. Alfi Rumidatul, S.Hut., M.Si. dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Prananda Luffiansyah Malasan, S.Ds., M.Ds., Ph.D. dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), serta Ir. Elprida Agustina, S.T., M.T. dari FTSL. Pertemuan berlangsung secara hibrida.

Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai kondisi dan praktik pengelolaan sampah yang berlangsung di lingkungan ITB serta kawasan di sekitarnya. Tim ingin mengidentifikasi mengapa berbagai upaya pengelolaan sampah yang telah dilakukan masih menghadapi persoalan, sekaligus mengkaji bagaimana faktor ekonomi, sosial, budaya, ketersediaan fasilitas, rasa memiliki terhadap komunitas, edukasi, dan modal sosial memengaruhi perilaku serta partisipasi masyarakat.

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi eksisting pengelolaan sampah, hambatan dan peluang dari program yang telah berjalan, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berbasis data yang sesuai dengan karakteristik lingkungan kampus ITB.

Tidak Mengulang Riset yang Sudah Ada

Salah satu perhatian utama dalam diskusi adalah banyaknya penelitian dan kegiatan terkait persampahan yang sebelumnya telah dilakukan di ITB maupun oleh berbagai pihak lainnya. Karena itu, tim menilai penelitian baru sebaiknya tidak kembali memulai seluruh proses dari awal.

Elprida Agustina menekankan perlunya terlebih dahulu mengidentifikasi aktor, kelompok, penelitian, metode, research question, serta keluaran dari berbagai kajian yang sudah tersedia. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui celah penelitian yang masih perlu dilengkapi. Data yang telah tersedia kemudian dapat dirangkai menjadi gambaran yang lebih komprehensif sebelum tim memutuskan data tambahan apa yang masih perlu dikumpulkan.

Tim juga mengidentifikasi adanya sejumlah data terkait pengelolaan sampah yang telah dimiliki berbagai pihak di ITB. Karena itu, inventarisasi data eksisting menjadi langkah awal sebelum penyusunan instrumen penelitian berikutnya.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat penelitian lebih efisien sekaligus menghasilkan temuan yang memiliki nilai tambah dibandingkan kajian-kajian sebelumnya.

Melihat Persoalan Sampah sebagai Ekosistem

Melia Famiola mengusulkan agar penelitian tidak terlalu berfokus pada perilaku individu karena kajian mengenai tema tersebut sudah cukup banyak. Menurutnya, persoalan sampah perlu dilihat sebagai sebuah ekosistem yang membentuk perilaku masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, penelitian dapat melihat berbagai faktor secara bersamaan, mulai dari kapasitas dan motivasi individu, pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, ketersediaan infrastruktur dan fasilitas, sistem layanan persampahan, hingga keberadaan insentif ekonomi.

Aspek ekonomi juga dinilai tidak seharusnya terbatas pada nilai uang yang diterima masyarakat dari sampah. Nilai manfaat dapat dikembangkan dalam bentuk lain yang memberikan keuntungan sosial bagi masyarakat. Pada saat yang sama, kualitas layanan pengangkutan dan pengelolaan sampah serta regulasi pemerintah juga perlu dikaji karena dapat menjadi faktor yang mendukung ataupun menghambat partisipasi masyarakat.

Pendekatan ekosistem tersebut membuka ruang kolaborasi lintas disiplin. Perspektif teknik lingkungan dapat memberikan pemahaman mengenai infrastruktur, teknologi, manajemen, dan regulasi, sementara perspektif bisnis dan sosial dapat memperkuat analisis terhadap aspek sosioekonomi, insentif, kelembagaan, dan perilaku masyarakat.

Menuju Indeks Ketahanan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

Dari diskusi tersebut muncul gagasan untuk mengembangkan sebuah instrumen atau indeks ketahanan dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sampah. Instrumen ini diharapkan dapat menggambarkan kesiapan suatu komunitas dalam mengelola persoalan sampah sekaligus menunjukkan faktor-faktor yang masih lemah dan membutuhkan intervensi.

Indeks tersebut dapat mencakup beberapa dimensi, antara lain individu dan rumah tangga, infrastruktur, layanan persampahan, inisiatif atau insentif ekonomi, serta regulasi. Hasil asesmen nantinya dapat divisualisasikan untuk menunjukkan tingkat kesiapan atau ketahanan masyarakat pada masing-masing aspek.

Dengan demikian, penelitian tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi berpotensi menghasilkan alat yang dapat membantu pemerintah maupun pemangku kepentingan menentukan intervensi. Apabila suatu aspek memiliki nilai rendah, misalnya, hasil penelitian dapat membantu mengidentifikasi apakah intervensi yang dibutuhkan berupa edukasi, kampanye, penguatan infrastruktur, perbaikan layanan, atau kebijakan lainnya.

Untuk membangun instrumen tersebut, tim sepakat bahwa diperlukan penguatan landasan keilmuan melalui tinjauan literatur. Elprida akan membantu mengidentifikasi faktor dan variabel dari berbagai publikasi terdahulu, sementara Melia akan membantu membangun kerangka body of knowledge sebagai dasar pengembangan kuesioner, FGD, dan instrumen asesmen.

Media Komunikasi Disusun Berdasarkan Temuan Riset

Penelitian juga dirancang agar menghasilkan keluaran yang dapat dikomunikasikan kepada masyarakat. Prananda Luffiansyah Malasan menyoroti pentingnya media komunikasi sebagai bagian dari implementasi hasil kajian.

Media tersebut tidak akan ditentukan sejak awal hanya dalam bentuk poster. Bentuk komunikasi akan dirancang berdasarkan hasil penelitian mengenai jenis informasi yang efektif dan mudah dipahami oleh masyarakat. Alternatifnya dapat berupa poster, video, konten media sosial, maupun medium komunikasi lainnya. Preferensi masyarakat terhadap bentuk komunikasi juga dapat digali melalui instrumen penelitian.

Pengembangan media komunikasi mencakup pula aspek branding, konsep komunikasi, hingga turunannya dalam berbagai medium. Hasil tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari rekomendasi atau policy paper yang nantinya disampaikan kepada pimpinan. Dalam jangka panjang, konsep yang dikembangkan berpotensi untuk diadaptasi pada kampus-kampus ITB lainnya setelah dilakukan evaluasi terhadap hasil implementasi awal.

Penelitian Ditargetkan Rampung Januari 2027

Secara metodologis, rancangan awal penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan model sequential explanatory. Tahap kuantitatif digunakan untuk memetakan pola dan tingkat partisipasi komunitas secara terukur, sedangkan tahap kualitatif digunakan untuk memperdalam dan menjelaskan temuan kuantitatif. Pengumpulan data direncanakan melalui kuesioner, wawancara, dan FGD.

Sebanyak lima mahasiswa juga disiapkan untuk membantu pelaksanaan penelitian, terutama dalam proses penyebaran kuesioner dan pengolahan data.

Berdasarkan garis waktu yang dibahas dalam rapat, tim akan terlebih dahulu melakukan identifikasi dan pengumpulan data eksisting hingga akhir Agustus 2026. Data tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan kuesioner yang ditargetkan selesai paling lambat pertengahan September 2026.

Penyebaran kuesioner direncanakan berlangsung selama sekitar satu bulan dengan dukungan mahasiswa, dilanjutkan dengan pengolahan dan analisis data hingga sekitar November. Pengembangan tour kit dan media komunikasi direncanakan berlangsung pada November hingga Desember 2026, sementara laporan akhir ditargetkan dapat diselesaikan pada Januari 2027. Tim juga mengupayakan publikasi hasil penelitian pada jurnal nasional.

Melalui kolaborasi lintas keilmuan tersebut, penelitian diharapkan tidak hanya menghasilkan pemetaan persoalan persampahan, tetapi juga kerangka yang dapat membantu memahami hubungan antara masyarakat, infrastruktur, layanan, regulasi, dan aspek ekonomi dalam satu ekosistem. Pada akhirnya, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah yang lebih partisipatif, terukur, dan sesuai dengan karakteristik komunitas kampus serta kawasan di sekitarnya.

 

Berita Terkait:

1. Diskusi Awal Riset dan Inovasi Penanganan Sampah
2. ITB Gelar Workshop “Pengelolaan Persampahan Kampus Menuju Zero Waste”
3. DRI ITB Akselerasi Riset Terintegrasi untuk Tangani Sampah Kampus, Targetkan Ekosistem “Zero Waste Zero Cost”
4. DRI ITB Kaji Strategi Penanganan Sampah Berbasis Sosial Humaniora di Sekitar Kampus
5. DRI ITB Gelar Diskusi Penajaman Riset Aksi Tata Kelola Sampah, Dorong Inovasi Sosial dan Ekonomi Sirkular