Tim Revitalisasi Jurnal ITB Bahas Model Pengelolaan yang Lebih Fleksibel
BANDUNG, dri.itb.ac.id — Tim Revitalisasi Jurnal Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar rapat untuk membahas arah kelembagaan dan model pengelolaan jurnal yang lebih profesional, fleksibel, dan berkelanjutan. Pertemuan ini juga menjadi rapat perdana tim bersama Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., Direktur Riset dan Inovasi ITB yang baru diangkat pada 1 Agustus 2026 lalu menggantikan Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si.
Rapat berlangsung pada hari Selasa, 4 Agustus 2026, Ruang Rapat A, Lantai 6, Gedung CRCS, Kampus ITB Bandung, Jalan Ganesa No. 10, Bandung, dihadiri oleh Dr. rer. nat. Rino Rakhmata Mukti; Ir. Eko Charnius Ilman, S.T., M.T., Ph.D., IPM; Faizal Immaddudin Wira Rohmat, S.T., M.T., Ph.D.; Kepala Subdirektorat Sarana, Prasarana, dan Sistem Informasi, Housny Mubarok, S.T.; dan Kepala Seksi Pengelolaan Jurnal dan Non Jurnal, Yuliah Qotimah, M.T.
Dalam pemaparannya, Dr. rer. nat. Rino Rakhmata Mukti menjelaskan rencana dan arah pengembangan Program Revitalisasi Jurnal ITB. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan penelaahan terhadap sejumlah alternatif kelembagaan yang memungkinkan pengelolaan jurnal dilakukan secara lebih lincah tanpa menghilangkan identitas dan kepemilikan ITB.
Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D. menyampaikan bahwa apabila tim pengelola ditempatkan secara langsung di dalam struktur organisasi ITB, ruang geraknya berpotensi menjadi kurang fleksibel. Oleh karena itu, salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah pembentukan unit spin-off yang dijalankan oleh alumni atau tenaga profesional yang kompeten dan tepercaya.
Alternatif lainnya adalah memperkuat ITB Press sebagai pengelola layanan penerbitan jurnal. Melalui skema tersebut, tidak diperlukan pembentukan badan hukum baru. ITB Press dapat menjalankan fungsi pengelolaan dan pengembangan layanan penerbitan, sedangkan Direktorat Riset dan Inovasi ITB menjadi salah satu pengguna layanan.
Dalam skema pengelolaan melalui ITB Press, perlu disusun sistem penghargaan atau pembagian royalti yang jelas bagi tim pengembang. Selain itu, penggunaan nama ITB Press sebagai penerbit pada produk jurnal juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan.
Meskipun pengelolaannya dapat dikembangkan secara profesional melalui berbagai model kelembagaan, kepemilikan jurnal tetap perlu berada di bawah ITB. Hal tersebut penting karena jumlah jurnal yang terindeks Scopus menjadi salah satu indikator kinerja institusi yang dilaporkan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim juga membahas kemungkinan penerapan sistem mirroring pada alamat situs jurnal. Langkah tersebut perlu dikaji agar pengelolaan teknologi dan bisnis jurnal dapat dilakukan secara fleksibel, tetapi identitas serta afiliasi jurnal tetap tercatat sebagai milik ITB.
Selain penguatan ITB Press dan pembentukan spin-off, jurnal yang memiliki kinerja serta potensi bisnis yang baik dapat dipertimbangkan untuk dikelola melalui anak usaha di bawah Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL). Model tersebut dinilai dapat memberikan fleksibilitas pengelolaan karena BPUDL berada dalam struktur ITB, sedangkan anak usahanya dapat berbentuk entitas nonstruktural.
Apabila alternatif pembentukan perusahaan rintisan dipilih, tim perlu mengkaji kebutuhan investor, komposisi kepemilikan saham, kepemilikan aset, serta bentuk dan porsi keterlibatan ITB. Setiap alternatif kelembagaan juga perlu dilengkapi dengan rencana bisnis yang mempertimbangkan aspek legalitas, operasional, pendanaan, dan keberlanjutan.
Rapat belum menetapkan bentuk kelembagaan akhir untuk pengelolaan Revitalisasi Jurnal ITB. Tiga alternatif utama yang akan dikaji lebih lanjut meliputi penguatan ITB Press, pembentukan spin-off atau perusahaan rintisan, serta pengelolaan melalui anak usaha di bawah BPUDL.
Tim Ad Hoc Revitalisasi Jurnal akan melanjutkan tugasnya hingga akhir Desember 2026. Dalam periode tersebut, tim akan menyusun beberapa alternatif rencana bisnis, mengkaji aspek legalitas dan kepemilikan, serta merumuskan mekanisme pengelolaan situs jurnal.
Pembahasan lanjutan juga akan dilakukan bersama PT Rekacipta Inovasi ITB (PT RII) dan ITB Press untuk menentukan model kelembagaan, skema bisnis, target kerja, serta keluaran yang harus diselesaikan oleh Tim Ad Hoc Revitalisasi Jurnal hingga akhir Desember 2026.
