Tingkatkan Kapasitas Dokter Bedah Saraf, STEI ITB Ciptakan Alat Simulasi Anastomosis Otak
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB kembali melakukan kunjungan (site visit) untuk meninjau perkembangan inovasi dari para penerima dana Program Inovasi Unggul Berdampak Tahun 2025. Pada hari Kamis (19/2/2026), tim DRI ITB mengunjungi bengkel kerja mitra riset, PT SAS Aero Sishan, di Jl. Lodaya No. 32, Lengkong, Bandung.
Kunjungan kali ini difokuskan pada riset yang dipimpin oleh Muhammad Shiddiq Sayyid Hashuro, S.T., M.Eng., Ph.D., dari Kelompok Keilmuan Teknik Biomedika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Bersama timnya, ia mengembangkan alat bernama VAST (Vascular Anastomosis Simulation Tool), yaitu perangkat simulasi untuk melatih dokter bedah saraf menyambungkan pembuluh darah di otak (anastomosis).
Sulitnya Operasi Bedah Saraf Otak
Operasi menyambung pembuluh darah di otak sangatlah sulit. Operasi ini diperlukan untuk membuat jalur aliran darah baru (bypass) jika ada pembuluh darah pasien yang rusak atau tersumbat. Tantangan utamanya adalah ukuran pembuluh darah otak yang sangat kecil, yaitu hanya sekitar 1 milimeter dan tebal dinding hanya 0,2 milimeter. Untuk menjahitnya, dokter bahkan harus menggunakan mikroskop.
Di Indonesia, jumlah dokter spesialis yang benar-benar ahli melakukan operasi rumit ini masih sangat sedikit, yakni tidak sampai 10 orang. Selama ini, para calon dokter bedah saraf hanya bisa berlatih menggunakan kadaver (mayat) yang kondisi pembuluh darahnya sudah memburuk, atau menggunakan pembuluh darah ayam yang tidak sepenuhnya relevan. Oleh karena itu, kehadiran simulator pelatihan yang realistis menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak.
Cara Kerja Alat Pintar VAST
Menjawab tantangan tersebut, tim STEI ITB menciptakan VAST. Alat yang dirancang khusus untuk mensimulasikan prosedur anastomosis tipe end-to- side secara realistis, serta dilengkapi dengan tiruan pembuluh darah dari bahan hydrogel yang dibuat agar kenyal dan mirip sekali dengan pembuluh darah asli di otak.
Hebatnya lagi, alat ini bisa otomatis menilai hasil latihan dokter melalui layar pintar (display). Mesin ini menilai tiga hal penting:
- Berapa lama waktu yang dibutuhkan dokter untuk selesai menjahit.
- Apakah ada kebocoran setelah pembuluh dijahit, yang diukur dengan sensor kelancaran aliran cairan (flow rate).
- Kerapian jarak jahitan, yang idealnya harus berjarak 0,2 milimeter antar ikatan. Karena jika terlalu rapat pembuluh akan mudah robek, namun jika terlalu renggang cairannya bisa bocor.
Dengan VAST, para dokter bisa berlatih berkali-kali dengan aman tanpa perlu khawatir membahayakan pasien. Kualitas alat ini juga telah diuji dan diakui langsung oleh dr. Kusdiansyah dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), yang merupakan dokter dengan rekam jejak operasi anastomosis terbanyak di Indonesia.
Karya Bersama Dosen, Mahasiswa, dan Industri
Keberhasilan alat canggih ini adalah hasil kolaborasi erat antara dosen, mahasiswa, dan mitra industri. Dr. Shiddiq secara aktif melibatkan dua mahasiswi Sarjana Teknik Biomedis angkatan 2020 dalam pembuatan alat ini. Eunike Kristianti, salah satu asisten peneliti mahasiswa, mengambil peran penting dalam proses desain 3D dan 3D printing untuk perangkat mekanis alat. Sementara itu, mahasiswa lainnya, Widya Anugrah Kinasih, memegang peranan penting dalam meracik bahan hydrogel hingga menjadi pembuluh darah tiruan.
Pembuatan alat ini juga didukung penuh oleh PT SAS Aero Sishan. Pihak perusahaan meminjamkan area kerja (workshop), fasilitas sistem manufaktur, hingga dukungan mekanik untuk merakit purwarupa VAST.
Ke depannya, tim riset berharap VAST dapat terus disempurnakan hingga mencapai tahap komersialisasi dan produksi massal, sehingga dapat dipakai oleh berbagai universitas serta rumah sakit pendidikan spesialis di seluruh Indonesia. Dengan begitu, kemampuan dan jumlah dokter bedah saraf yang mahir melakukan anastomosis di Indonesia akan meningkat, sehingga ke depannya penanganan masalah kardiovaskular atau penyumbatan pembuluh otak bagi masyarakat luas dapat terlayani dengan jauh lebih baik.
Kontributor: Aura Salsabila Alviona
