Unhan RI Pelajari Tata Kelola Riset, Pengabdian, dan Hilirisasi Inovasi di ITB
BANDUNG, dri.itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) menerima kunjungan studi banding dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pertahanan Republik Indonesia (LPPM Unhan RI), Rabu, 29 Juli 2026. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB tersebut membahas tata kelola riset, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, pendanaan, hingga hilirisasi hasil penelitian.
Delegasi Unhan RI dipimpin oleh Pembina Utama Muda IV/c Dr. Sri Murtiana, S.Sos., M.M., CIT, serta diikuti Kolonel Czi Chris Hermawan, S.E., M.M.; Kolonel Inf Dr. Haryo Mustoko, S.Sos., M.M., CIT; Kolonel Laut (KH) Suwarko, S.Pd.; dan Letda Czi M. David Chadir, S.T.
Delegasi diterima oleh Plt. Direktur Riset dan Inovasi ITB, Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si.; Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran, Prof. Dr. Ing. Zulfiadi, S.T., M.T.; serta Direktur Kawasan Sains dan Teknologi, Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D.
Dalam pengantarnya, Dr. Sri Murtiana menjelaskan bahwa kunjungan tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi dan sinergi antara Unhan RI dan ITB, terutama dalam bidang riset, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. Unhan RI juga ingin mempelajari praktik tata kelola kelembagaan yang dapat diadaptasi untuk mendukung pengembangan LPPM Unhan RI.
Menurutnya, Unhan RI dan ITB telah memiliki kedekatan akademik karena sejumlah dosen dan pejabat akademik di Unhan RI berasal dari ITB atau masih memiliki keterikatan akademik dengan ITB. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk membuka peluang kerja sama yang lebih luas pada masa mendatang.
Pembagian Peran dalam Ekosistem Riset dan Inovasi
Dalam pertemuan tersebut, pihak ITB memaparkan struktur pengelolaan riset dan inovasi di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi (WRRI). Terdapat tiga direktorat dengan mandat yang saling melengkapi, yaitu Direktorat Riset dan Inovasi (DRI), Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK), serta Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST).
DRI berfokus pada pengelolaan riset, publikasi ilmiah, inovasi tahap awal, serta pengembangan Pusat dan Pusat Penelitian. Saat ini, ITB memiliki sekitar 36 Pusat dan Pusat Penelitian dengan bidang kepakaran yang beragam, mulai dari kecerdasan artifisial hingga kajian halal.
Sementara itu, DPMK menangani pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dan layanan kepakaran. Adapun DKST berperan mengawal hasil riset yang telah mencapai tingkat kesiapan teknologi lebih tinggi menuju pengujian lapangan, kemitraan dengan industri, hilirisasi, dan komersialisasi.
Pembagian tersebut memungkinkan setiap hasil penelitian dikelola sesuai tahap perkembangannya. Riset dan prototipe awal dikembangkan melalui DRI, sedangkan produk teknologi yang semakin matang dapat dilanjutkan melalui DKST agar siap diterapkan dan dimanfaatkan oleh industri maupun masyarakat.
Pertemuan juga membahas mekanisme reorganisasi, sistem kepegawaian, serta pengelolaan pendanaan riset di perguruan tinggi. Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), ITB memiliki fleksibilitas dalam mengembangkan sumber daya manusia dan membangun kerja sama pendanaan. Namun, seluruh hibah, proyek, dan kerja sama tetap harus dikelola secara akuntabel sesuai proposal, kontrak, serta ketentuan yang berlaku.
Pengabdian Berbasis Kebutuhan Masyarakat
Salah satu topik yang mendapat perhatian delegasi Unhan RI adalah pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat di ITB. Program pengabdian ITB telah menjangkau berbagai wilayah, mulai dari Bandung Raya, Jawa Barat, Pulau Jawa, luar Pulau Jawa, hingga daerah perbatasan dan kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
Bentuk kegiatannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, antara lain penyediaan air bersih, pengeboran sumur, pembangunan sistem distribusi air, penerapan teknologi energi surya dan mikrohidro, pelatihan guru, mitigasi bencana, pendampingan usaha, serta pengembangan nilai tambah komoditas lokal.
Pihak ITB menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berupa penyuluhan. Dosen dan tenaga ahli terlibat langsung dalam mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, membangun fasilitas, melatih masyarakat, serta memastikan program dapat terus berjalan setelah masa pendanaan berakhir.
ITB juga memperkenalkan Desanesha, aplikasi yang memungkinkan kepala desa menyampaikan permasalahan dan kebutuhan di wilayahnya. Persoalan tersebut kemudian dipetakan dan dipertemukan dengan kepakaran dosen ITB melalui pembukaan proposal pengabdian kepada masyarakat. Dengan pendekatan ini, program yang dijalankan berasal dari kebutuhan nyata di lapangan, bukan hanya berdasarkan asumsi tim pelaksana.
Delegasi Unhan RI menilai pendekatan tersebut berpotensi diterapkan dengan memanfaatkan jaringan teritorial yang dimiliki Unhan RI. Meski demikian, penerapannya perlu didukung oleh kesiapan sistem, prosedur, sumber daya manusia, dan anggaran.
Menekankan Dampak dan Keberlanjutan
Selain ketepatan solusi, keberlanjutan menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. ITB mendorong dosen yang bekerja di luar daerah untuk melibatkan perguruan tinggi, sekolah, pemerintah daerah, dan komunitas setempat sebagai mitra pendamping.
Salah satu contoh yang dibahas ialah pendampingan masyarakat di Nunukan, Kalimantan Utara. Program di wilayah perbatasan tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun dengan melibatkan sekolah menengah kejuruan sebagai mitra lokal. Keterlibatan tersebut memungkinkan program tetap dipantau dan dikembangkan meskipun tim ITB telah kembali ke Bandung.
Pertemuan juga membahas pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot yang selanjutnya digunakan sebagai pakan ikan atau ayam. Adapun sampah anorganik dapat dikelola melalui bank sampah. Pendekatan terintegrasi tersebut diharapkan mengurangi volume sampah yang dibuang sekaligus menciptakan kegiatan produktif bagi masyarakat.
Pembahasan turut dikaitkan dengan Program Citarum Harum. Para peserta sepakat bahwa penanganan sampah dan limbah domestik tidak cukup dilakukan melalui edukasi, tetapi perlu dilengkapi dengan pembangunan sarana, pelatihan, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaannya.
Pada akhir pertemuan, delegasi Unhan RI menyampaikan bahwa berbagai praktik yang dipelajari akan menjadi bahan laporan dan pertimbangan bagi pimpinan dalam memperkuat tata kelola riset dan pengabdian kepada masyarakat di Unhan RI.
ITB menyambut terbuka peluang kolaborasi lanjutan, baik melalui kerja sama antardosen, pertukaran kepakaran, penelitian bersama, publikasi ilmiah, maupun pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat. Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun sinergi akademik yang semakin kuat antara ITB dan Unhan RI serta menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
