Enter your keyword

WRRI ITB Dorong Pusat dan Pusat Penelitian Tumbuh sebagai Kekuatan Riset Multidisiplin

WRRI ITB Dorong Pusat dan Pusat Penelitian Tumbuh sebagai Kekuatan Riset Multidisiplin

WRRI ITB Dorong Pusat dan Pusat Penelitian Tumbuh sebagai Kekuatan Riset Multidisiplin

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Institut Teknologi Bandung (WRRI ITB), Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., mendorong penguatan peran Pusat dan Pusat Penelitian (P/PP) agar berkembang menjadi organisasi riset yang semakin kuat, multidisiplin, dan mampu membangun kolaborasi dalam skala yang lebih besar.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi bersama para Kepala Pusat dan Pusat Penelitian, Rabu (2/9/2026), di Auditorium Gedung CRiMSE ITB, Jalan Ganesa No. 10 Bandung.

Dalam arahannya, Prof. Lavi menyoroti bahwa perkembangan P/PP di ITB saat ini masih cukup beragam. Ada unit yang telah berjalan aktif dan berkembang dengan baik, tetapi ada pula yang belum mampu menjaga keberlanjutan aktivitasnya. Salah satu tantangan yang disorot adalah regenerasi, khususnya ketika perkembangan sebuah pusat terlalu bergantung pada satu figur.

Menurutnya, sejumlah pusat pada awal pembentukannya memiliki tokoh yang kuat dan mampu menjadi penggerak. Namun, ketika tokoh tersebut tidak lagi aktif, tidak selalu tersedia generasi berikutnya yang mampu melanjutkan pengembangan pusat tersebut.

Kondisi ini menjadi salah satu alasan perlunya pembenahan Pusat dan Pusat Penelitian, bukan hanya dari sisi struktur kelembagaan, tetapi juga dalam membangun komunitas, kepemimpinan, dan kesinambungan kegiatan riset.

Memperjelas Peran Pusat dan Fakultas/Sekolah

Prof. Lavi juga menekankan pentingnya memperjelas posisi P/PP terhadap Fakultas dan Sekolah.

Menurutnya, Pusat dan Pusat Penelitian seharusnya tidak berkembang sebagai unit yang menjalankan aktivitas serupa atau bahkan berkompetisi dengan Fakultas/Sekolah. Sebaliknya, P/PP perlu menjadi ruang yang mampu mempertemukan berbagai disiplin ilmu.

Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pusat idealnya melibatkan peneliti dari beberapa Fakultas dan Sekolah. Persoalan muncul ketika sebuah pusat hanya menjadi kelompok yang berasal dari satu lingkungan keilmuan tanpa interaksi multidisiplin yang cukup kuat.

Ia menggambarkan Fakultas dan Sekolah sebagai tempat untuk membangun serta menjaga kedalaman suatu disiplin ilmu. Sementara itu, Pusat atau Research Center diarahkan untuk menyatukan beragam kompetensi tersebut dalam menghadapi suatu permasalahan.

Sebagai contoh, ketika berhadapan dengan kebutuhan industri, pembicaraan tidak lagi terbatas pada satu bidang seperti mekanika fluida. Persoalan seperti renewable energy membutuhkan keterlibatan berbagai keahlian, mulai dari mekanika fluida, thermal engineering, material, hingga bidang lain yang relevan.

Pendekatan lintas disiplin tersebut menjadi salah satu karakter yang menurut Prof. Lavi perlu semakin diperkuat dalam aktivitas P/PP ITB.

Gagasan Research Institute

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Lavi juga menyampaikan gagasan mengenai pengembangan Research Institute sebagai arah kelembagaan riset ITB ke depan.

Research Institute dibayangkan sebagai organisasi riset dalam skala lebih besar yang menaungi berbagai center dengan kompetensi yang saling melengkapi. Dengan demikian, Pusat dan Pusat Penelitian yang saat ini berdiri sendiri tidak hanya dilihat sebagai unit-unit terpisah, tetapi dapat menjadi bagian dari kekuatan riset yang lebih besar.

Prof. Lavi menekankan bahwa skala kelembagaan menjadi penting, terutama ketika ITB ingin memperoleh proyek dan pendanaan riset yang lebih besar.

Daripada memiliki banyak unit dengan kapasitas yang relatif kecil, organisasi riset yang lebih terkonsolidasi dinilai akan memiliki daya tawar lebih kuat ketika berhadapan dengan mitra eksternal. Kompetensi dari berbagai bidang dapat dihimpun dalam satu tim sehingga kapasitas yang ditawarkan juga menjadi lebih besar.

Ia mencontohkan lembaga riset kebencanaan di Tohoku University sebagai bentuk organisasi yang mempertemukan beragam disiplin. Penanganan kebencanaan, misalnya, tidak hanya membutuhkan teknik dan ilmu kebumian, tetapi juga kesehatan, sejarah, serta berbagai bidang lainnya.

Orientasi Kinerja yang Berbeda

Perbedaan fungsi antara Fakultas/Sekolah dan organisasi riset menurut Prof. Lavi juga perlu diikuti dengan indikator kinerja yang berbeda.

Saat ini, indikator P/PP masih memiliki sejumlah kemiripan dengan Fakultas/Sekolah, misalnya dalam hal publikasi. Ke depan, organisasi riset diharapkan semakin mampu menunjukkan kapasitasnya melalui perolehan proyek, pendanaan, kerja sama, serta aktivitas riset yang dibangun secara lintas disiplin.

Dengan pendekatan tersebut, Fakultas dan Sekolah tetap menjalankan fungsi akademik dan pengembangan keilmuan, sedangkan organisasi riset dapat lebih fokus membangun program dan proyek berskala besar.

Prof. Lavi juga menyinggung kemungkinan berkembangnya profesi seperti research faculty dan research engineer di dalam ekosistem tersebut. Organisasi riset pada akhirnya tidak hanya bergantung pada dosen, tetapi dapat memiliki tenaga profesional yang keberlanjutannya didukung oleh proyek-proyek penelitian yang dihasilkan.

Membangun SDM Riset Penuh Waktu

Perhatian lain diberikan pada penguatan sumber daya manusia riset, terutama mahasiswa doktor dan asisten peneliti pasca.

Menurut Prof. Lavi, asisten peneliti pasca perlu ditempatkan sebagai tenaga yang bekerja secara penuh waktu dalam kegiatan penelitian di bawah bimbingan dosen atau peneliti utama yang memiliki proyek.

Dengan pola tersebut, kegiatan penelitian tidak lagi hanya menjadi aktivitas tambahan, tetapi berkembang sebagai pekerjaan profesional yang membutuhkan dukungan pendanaan dan pengelolaan yang memadai.

Model ini sekaligus diharapkan memperkuat kelompok riset. Dosen dapat berperan sebagai pengarah atau Principal Investigator, sementara mahasiswa doktor dan tenaga peneliti menjadi bagian dari aktivitas riset sehari-hari.

Membangun Ekosistem bersama Industri

Pada bagian lain paparannya, Prof. Lavi juga mengaitkan penguatan kelembagaan riset dengan kebutuhan membangun ekosistem yang lebih luas, termasuk melalui pengembangan kawasan riset dan inovasi.

Ia menjelaskan bahwa gagasan pengembangan Walini saat ini tidak sekadar diarahkan menjadi kawasan kampus. Kawasan tersebut dibayangkan sebagai tempat bertemunya ITB dengan pusat R&D industri dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dengan model tersebut, industri tidak hanya hadir sebagai mitra setelah penelitian selesai, tetapi dapat menjadi bagian langsung dari ekosistem penelitian.

Prof. Lavi menekankan bahwa pendanaan penelitian juga perlu semakin beragam. Ketergantungan hanya kepada pendanaan pemerintah dinilai belum cukup untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan. Industri perlu terlibat karena memiliki kebutuhan nyata terhadap teknologi dan hasil penelitian.

Karena itu, pengembangan kawasan tersebut juga diarahkan untuk menarik anchor company dan perusahaan-perusahaan yang memiliki kapasitas R&D. Kehadiran industri diharapkan membuka ruang bagi proyek penelitian, pengembangan teknologi, serta keterlibatan mahasiswa doktor dan tenaga peneliti secara lebih berkelanjutan.

 

Berita terkait: WRRI ITB Rumuskan Arah Baru Riset dan Inovasi Berkelanjutan Tahun 2026