Enter your keyword

WRRI ITB Rumuskan Arah Baru Riset dan Inovasi Berkelanjutan Tahun 2026

WRRI ITB Rumuskan Arah Baru Riset dan Inovasi Berkelanjutan Tahun 2026

WRRI ITB Rumuskan Arah Baru Riset dan Inovasi Berkelanjutan Tahun 2026

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi (WRRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar rapat koordinasi strategis bersama jajaran Komisi Riset dan Inovasi untuk merumuskan arah kebijakan melalui “Pembahasan Program Riset dan Inovasi ITB Tahun 2026”, pada hari Senin (18/05/26). Dialog ini berfokus pada perancangan transparansi dan Masterplan Riset berkelanjutan guna mendongkrak ekosistem penelitian yang terintegrasi menuju target besar ITB, yakni menembus Top 150 QS World University Ranking pada tahun 2030.

 

Delegasi yang hadir terdiri dari komisi di berbagai fakultas/sekolah dan unit, di antaranya FMIPA, FTTM, FTSL, FTMD, FITB, SAPPK, STEI, serta DPMK dan DKST. Rombongan diskusi ini dipimpin secara langsung oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., bersama pimpinan dari DRI ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., dan Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si. Turut hadir pula perwakilan peneliti yang memberikan pandangan kritis, seperti Prof. M. Salman A.N., Prof. Ferry Iskandar, Dr. Zulfakriza, dan perwakilan lainnya.

Dalam presentasi utamanya, Prof. Lavi memaparkan urgensi kebijakan baru melalui penguatan skala SDM riset pascasarjana. ITB menetapkan target untuk dapat menyerap 5.000 asisten peneliti pasca (S3 dan Postdoc) serta 1.000 Profesor/Principal Investigator (PI) ke depannya yang dirancang sebagai Fase Ekosistem. Untuk menjamin dan menjaga quality assurance riset berskala global, DRI juga mendorong skema Joint Supervision secara masif. Pada fase puncaknya, skema ini membidik keterlibatan 300 dosen ITB, kemitraan dengan 50+ Kampus Mitra Top 100 QS, dan ditargetkan menghasilkan luaran lebih dari 600 publikasi bereputasi per tahun.

Salah satu sorotan utama dalam pertemuan ini adalah kebijakan revitalisasi kelembagaan demi efisiensi Indikator Kinerja Utama (KPI). Ke depannya, sebanyak 35 Pusat/Pusat Penelitian (P/PP) yang terfragmentasi akan difusi dan direvitalisasi menjadi Research Institute terintegrasi berskala besar. KPI untuk level institut akan diarahkan pada perolehan kontrak pendanaan multinasional berskala makro, sehingga institusi tidak lagi berkompetisi memperebutkan luaran paper secara internal dengan Kelompok Keahlian (KK). Secara sinergis, riset tidak lagi terkotak-kotak pada fakultas, melainkan akan dilebur ke dalam 8 Sektor/Klaster Fokus Riset Masa Depan yang dirancang secara multidisiplin untuk menyelesaikan masalah krusial global dan kebutuhan strategis nasional.

Lebih jauh, untuk memangkas jurang pemisah antara riset kampus dan kebutuhan industri, ITB mematangkan perluasan sistem multikampus melalui pembentukan Kawasan Riset dan Inovasi Strategis Nasional di Walini. Melalui kolaborasi business-proposal, area kawasan yang akan ditarik seluas 300 hektar ini disiapkan sebagai pusat Penta Helix Hub yang mempertemukan universitas, lahan BUMN, dan korporasi industri multinasional. Keberadaan unit Research & Development (R&D) perusahaan terkemuka di kawasan terpadu tersebut diproyeksikan akan memberikan suplai agenda persoalan nyata dan limpahan pendanaan riset untuk ribuan doktor dan peneliti ITB.

Prof. Lavi menegaskan bahwa skema ini dirancang agar riset ITB memiliki nilai jual tinggi di pasar global. Sinergi antara perguruan tinggi sebagai pemasok SDM, pemerintah sebagai pengelola kawasan, dan industri sebagai pengguna riset, diharapkan mampu menciptakan ekosistem inovasi yang mandiri dan berkelanjutan.

Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB menekankan bahwa draf awal ini akan segera disempurnakan melalui masukan dari Komisi Riset dan Inovasi, serta akan diperkuat dengan norma-norma dari Senat Akademik. Langkah ini diambil untuk memastikan transisi kebijakan dapat berjalan efektif, mengintegrasikan riset dasar hingga ke tingkat hilirisasi (komersialisasi), dan memastikan ITB menjadi penggerak utama inovasi teknologi nasional di masa depan.

 

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah